Organisasi, Interaksi, dan Orasi*


Manusia dilahirkan untuk berinteraksi. Kita kenal dengan istilah mahluk sosial. Tidak bisa disangkal, hari ini anda duduk, juga merupakan proses interaksi.  Mungkin sesekali anda mengobrol dengan teman sebelah lalu abai dengan tulisan ini. Atau juga hanya diam sambil membaca tulisan ini. Semua itu adalah proses interaksi.

Dalam proses kehidupan, anda akan bertemu dengan banyak orang, apalagi sebagai mahasiswa, tentu berbeda dengan orang yang berseragam putih abu – abu.  Mahasiswa akan dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Mungkin ada yang kenal istilah ini “kalau anda ingin tahu bedanya orang yang terpelajar dan kurang ajar, lihat bagaimana ia berbicara”. Sekali lagi, anda sedang dalam proses interaksi.

Kita beruntung dapat berkomunikasi dengan berbicara dan mengungkapkan pikiran. Ini adalah karunia, hanya manusia yang mampu berkomunikasi secara jelas tentang apa saja yang ingin disampaikan pada orang lain. Itu yang membuat manusia menjadi ciptaan yang memiliki kelebihan dibanding ciptaan lain. Kambing misalnya bisa mengembik dan harimau mengaung. Namun tetap mereka makhluk hidup yang tidak bisa membangun peradabannya seperti hidupnya manusia.

Surat untuk Sang Jenderal


Kepada  Yth.
Panglima Besar Jenderal Soedirman
Di
Tempat


Dengan Hormat,

Mohon maaf,  Jenderal. Mungkin saya terlalu lancang untuk mengirimkan surat kepada Jenderal. Maksud saya menuliskan ini tanpa maksud apa- apa. Tidak ingin juga menggangu waktu istirahat Jenderal. Saya memberanikan diri untuk menuliskan surat kepada jenderal, karena saya resah dengan monumen hidup Jenderal, kampus Universitas Jenderal Soedirman.

Jenderal, saya sudah semester akhir.  Saya bangga kuliah di kampus yang ada nama “jenderal”nya. Saya jauh – jauh dari kota besar, Karena kampus di kota besar cuma milik orang yang berduit, saya datang ke kota kecil ini ingin merasakan kuliah yang lebih murah dan mendapatkan pendidikan yang sama layaknya. Tapi mengapa kampus Jenderal biayanya sama saja dengan kuliah di kota besar ? Apakah Jenderal malu menerima calon mahasiswa yang miskin ?

Catatan Menulis Berita *


Anda pernah jatuh cinta ? Kalau anda belum pernah jatuh cinta. Saya sarankan tidak usah membaca tulisan ini sampai habis. Karena kita tidak bisa mulai materi  ini, tidak seperti orang jatuh cinta. Sulit, jika anda masih melihat pekerjaan ini ribet, dan membosankan. 

Namun anda cukup beruntung, seorang yang tercatat dalam sejarah adalah mereka yang pemikirannya terekam dalam sebuah tulisan. Anda kenal Socrates ? seorang filsuf yang mengubah peradaban dunia. Padahal ia lahir jauh sebelum abad masehi.  Namun pemikirannya masih digunakan sampai hari ini. Mengapa ? karena pemikirannya ditulis oleh muridnya,  Plato. 

Anda kenal Soe Hok Gie ? Mungkin anda tidak pernah dengar namanya. Percayakah, berkat  tulisannya terjadi perubahan sejarah Indonesia. Ia adalah mahasiswa yang sering menuliskan buah pikirannya di media massa. Gara – gara dia, kekuasaan soekarno runtuh. 

Lagi, Anda kenal Napoleon Hill ? Mungkin baru kali ini kamu pernah dengar namanya. Ia adalah seorang Raja Prancis yang terkenal strategi perangnya. Ia pernah berujar, “Pena wartawan lebih tajam daripada sebilah pedang, karena itu saya lebih takut menghadapi tiga surat kabar daripada seribu ujung boyonet, “

Ku cinta Kau Lebih dari kemarin - The Abdul And Coffee Company


Memenangkan Cinta*


* Tulisan ini tidak sengaja saya temukan, saya pikir tulisannya bagus dan inspiratif, tidak ada salahnya untuk saya abadikan di blog saya ... 

Ibu Teresa dari Kalkuta adalah sosok yang dikagumi, sosok yang disanjung di berbagai belahan dunia dan kalangan. Ia seorang pribadi ”pencinta cinta”. Sepanjang hidupnya, ia berusaha memenangkan cinta.

Demikian pula Mahatma Gandhi. Ia seorang pejuang cinta. Dalam perjuangan melawan kekerasan politik, ia pun berusaha memenangkan cinta. Suri teladan mereka telah menginspirasi banyak kalangan untuk juga hidup berdasarkan cinta.

Baik Ibu Teresa maupun Mahatma Gandhi adalah pribadi yang sungguh yakin bahwa daya cinta itu bisa mengatasi segala kepekatan hidup. Mereka pun sungguh yakin bahwa dunia ini sebenarnya adalah milik cinta. Karena itu, mereka terus mengajarkan dan memperagakan dalam hidup mereka bahwa cinta adalah inti terdalam dari hidup manusia.