#2


Saya bertanya kepada TUHAN, siapa Engkau ?
Engkau yang tak terselami, yang tak terjawab. ..

Saya bertanya kepada TUHAN, seperti apa Engkau ?
Engkau yang ingin ku sentuh,  yang begitu dekat...

Saya bertanya kepada TUHAN, Kenapa Engkau diam ?
Engkau yang tak terjawab, yang tak bicara...

Saya bertanya kepada Tuhan, Apakah Engkau bisa dinalar ?
Engkau yang tak terpikirkan, yang tak berlogika...

Saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana berada di dekat Mu ?
Engkau yang tak bisa digenggam, yang tak tampak...

Lalu Saya bertanya kepada Tuhan,
Bagaimana begitu bisa merasakanMU , bahkan tanpa alasan.

#1


Tersesat dalam ruang tak terbatas. Berjalan-jalan tak berbatas. Seperti hitungan tak berangka.

Bergerak di antara ruang kosong. Tak sangka bertemu di persimpangan. Salah jalan ?

Berjalan tak terarah. Tahu tidak mudah. Tapi mencari jalan bersama. Kok bisa ?

Menyadari tak bersepakat. Saling menyelam meretas jalan. Kok bisa ?

Muncul tiba – tiba. Muncul tak disangka.  Siapa ?

Mencoba bertanya pada waktu. Mengapa sekarang ?

Semakin  banyak bertanya. Malah takut menjawab...

Rapat


Ruangan itu tampak besar. Meja sengaja disusun melingkar dengan microphone di meja, menandakan itu ruang rapat. Suasana pun tampak tegang. Maklum, itu rapat petinggi lembaga pendidikan tinggi.
Disisi lain, siapapun yang baru pernah disana akan merasa nyaman. Sandaran kursinya tinggi dan empuk. Ruang pendingin pun memanjakan suhu sekitarnya. Sampai – sampai peserta rapat sesekali tertidur.
Di tengah kedinginan, pikiran saya melesat jauh ke belakang , dalam hati muncul pertanyaan, apakah rapat – rapat penentuan bayaran kuliah sebelumnya juga seperti ini?
Rapat dibuka dengan perbandingan nilai nominal uang kuliah di beberapa universitas lain.  Layar menunjukkan bayaran tertinggi sampai terendah. Saya tidak melihat biaya kurang dari 3 jt/semester disana. Mudah-mudah saya tidak salah melihat bahwa biaya termurah adalah 4 juta.  Saya pikir, itu representatif dari bayaran kuliah Perguruan tinggi negeri di Indonesia saat ini. 
Namun saya tidak habis pikir dengan respon petinggi – petinggi lembaga pendidikan ketika meilhat layar tersebut. Saya juga tidak bisa menebak alasan mengapa  pemimpin rapat menunjukan biaya perguruan tinggi lain di awal rapat.  Yang saya tahu, setelah itu mereka mulai menentukan ragu – ragu dengan membandingkan nominal biaya kuliah tempat lain.

#Reflektif

Berpikir dalam tentang jalan pikiran. Tak memberikan ruang untuk menerjemahkan apa yang ada. Tak terdefinisikan apa yang terlintas.  Kadang membangun jalannya sendiri bahkan dalam keterbatasannnya. Atau mungkin Justru sengaja dibuat terbatas agar bisa menjelaskan mengapa terbatas.

Semua bisa dijelaskan, kecuali ketidakberhinggaan. Bandul akan dibiarkan bebas tebentur bandul lain. Tidak terbatas, kecuali benar – benar letih berbenturan. Memikirkan yang tidak seharusnya dipikirkan akan membuat semakin jelas berpikir.
Biarkan air mengalir sampai beradu kuat dengan bongkahan batu besar. Kontemplasi adalah memberi kesempatan gerak rasio dalam ruang intuisi untuk saling beradu. Biarkan itu terjadi.
Ide tak bersekat, bahkan dalam bongkahan kepala, masih ada imajinasi.  Tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Dengarkan dari suara gemericik sampai suara raungan.
Rasakan dari halus sampai kasar.
Ia tidak pernah terbatas. Jangan bunuh dia dengan keterbatasan...

#Savesoedirman = gerakan hedonisme ?!?


Ide menulis judul ini muncul dari sebuah ajakan. Rencananya, saya ingin mengajak lebih banyak orang untuk ikut flashmob di alun – alun. Jika ada yang tidak tahu, Nama flash mob sendiri sebenarnya berasal dari dua kata dalam bahasa Inggris yaitu flash yang berarti sekejap atau kilat dan mob yang berarti kerumunan. Makanya, setiap gerakan flash mob pasti melibatkan banyak orang dan hanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.  Ini menantang, karena flashmob untuk save soedirman ini lahir karena ide spontanitas. Persiapan dengan tempo sesingkat-singkatnya.

Saya antusias karena saya pikir ide ini cerdas, sedang tren, dan dilakukan di ruang publik, yaitu alun – alun. Sekaligus bisa memberikan informasi ke masyarakat luas tentang gerakan Savesoedirman. Maka dari itu, saya antusias untuk ajak banyak orang. Tak disangka, judul ini muncul dari jawaban seorang teman.

Saya bertanya dengan penasaran, di bagian mana save soedirman dianggap “hedon” ? kok bisa ?

Rupanya, teman saya melihat konser musik savesoedirman yang dipernah dilakukan di Farmasi, Pertanian, dan Perternakan. Ia menilai bahwa mengadakan konser musik adalah kegiatan hura-  hura. Acara yang kedombrangan itu tidak menunjukan bahwa savesoedirman sedang memperjuangkan akses orang miskin bisa kuliah.