Saya bertanya kepada TUHAN, siapa Engkau ?
Engkau yang tak terselami, yang tak terjawab. ..
Saya bertanya kepada TUHAN, seperti apa Engkau ?
Engkau yang ingin ku sentuh,
yang begitu dekat...
Saya bertanya kepada TUHAN, Kenapa Engkau diam ?
Engkau yang tak terjawab, yang tak bicara...
Saya bertanya kepada Tuhan, Apakah Engkau bisa dinalar ?
Engkau yang tak terpikirkan, yang tak berlogika...
Saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana berada di dekat Mu ?
Engkau yang tak bisa digenggam, yang tak tampak...
Lalu Saya bertanya kepada Tuhan,
Bagaimana begitu bisa merasakanMU , bahkan tanpa alasan.
Tersesat dalam ruang tak terbatas. Berjalan-jalan tak
berbatas. Seperti hitungan tak berangka.
Bergerak di antara ruang kosong. Tak sangka bertemu di
persimpangan. Salah jalan ?
Berjalan tak terarah. Tahu tidak mudah. Tapi mencari jalan
bersama. Kok bisa ?
Menyadari tak bersepakat. Saling menyelam meretas jalan. Kok
bisa ?
Muncul tiba – tiba. Muncul tak disangka. Siapa ?
Mencoba bertanya pada waktu. Mengapa sekarang ?
Semakin banyak bertanya. Malah takut menjawab...
Ruangan itu
tampak besar. Meja sengaja disusun melingkar dengan microphone di meja, menandakan itu ruang rapat. Suasana pun tampak
tegang. Maklum, itu rapat petinggi lembaga pendidikan tinggi.
Disisi lain,
siapapun yang baru pernah disana akan merasa nyaman. Sandaran kursinya tinggi
dan empuk. Ruang pendingin pun memanjakan suhu sekitarnya. Sampai – sampai
peserta rapat sesekali tertidur.
Di tengah kedinginan, pikiran saya melesat jauh ke belakang , dalam hati muncul pertanyaan, apakah rapat – rapat penentuan bayaran kuliah sebelumnya juga seperti ini?
Rapat dibuka
dengan perbandingan nilai nominal uang kuliah di beberapa universitas lain. Layar menunjukkan bayaran tertinggi sampai
terendah. Saya tidak melihat biaya kurang dari 3 jt/semester disana.
Mudah-mudah saya tidak salah melihat bahwa biaya termurah adalah 4 juta. Saya pikir, itu representatif dari bayaran
kuliah Perguruan tinggi negeri di Indonesia saat ini.
Namun saya tidak
habis pikir dengan respon petinggi – petinggi lembaga pendidikan ketika meilhat
layar tersebut. Saya juga tidak bisa menebak alasan mengapa pemimpin rapat menunjukan biaya perguruan
tinggi lain di awal rapat. Yang saya
tahu, setelah itu mereka mulai menentukan ragu – ragu dengan membandingkan
nominal biaya kuliah tempat lain.
Berpikir dalam tentang jalan
pikiran. Tak memberikan ruang untuk menerjemahkan apa yang ada. Tak
terdefinisikan apa yang terlintas.
Kadang membangun jalannya sendiri bahkan dalam keterbatasannnya. Atau
mungkin Justru sengaja dibuat terbatas agar bisa menjelaskan mengapa terbatas.
Semua bisa dijelaskan, kecuali
ketidakberhinggaan. Bandul akan dibiarkan bebas tebentur bandul lain. Tidak
terbatas, kecuali benar – benar letih berbenturan. Memikirkan yang tidak
seharusnya dipikirkan akan membuat semakin jelas berpikir.
Biarkan air mengalir sampai
beradu kuat dengan bongkahan batu besar. Kontemplasi adalah memberi kesempatan
gerak rasio dalam ruang intuisi untuk saling beradu. Biarkan itu terjadi.
Ide tak bersekat, bahkan dalam
bongkahan kepala, masih ada imajinasi. Tidak
terlihat bukan berarti tidak ada.
Dengarkan dari suara gemericik
sampai suara raungan.
Rasakan dari halus sampai
kasar.
Ia tidak pernah terbatas.
Jangan bunuh dia dengan keterbatasan...