First Impression
Pada mulanya adalah
Manusia. Manusia dengan segala kemampuan dalam dirinya akan menguasai daerah
kekuasaan. Ada sebuah ruangan yang memisahkan diri atau mungkin sengaja
dipisahkan. Ruangan itu disebut agama dan masyarakat sebagai ruangan keji dan
ruangan yang suci. Garis pemisah itu didengungkan dari mimbar – mimbar untuk
memisahkan manusia.
Kemudian manusia
segala kemampuannya dengan segala dayanya, berkelompok dan berkuasa di daerah
kekuasaannya itu. Mereka ada yang terdesak memenuhi ruangan keji. Ada ratusan
manusia berhimpitan atas nama ekonomi rela mengorbankan tubuhnya diperlakukan
apa saja setiap malam, demi bisa hidup.
Mungkin benar manusia
akan meninggalkan jejak, yang ia sebut itu sebagai karya. Maka, setiap manusia
adalah seorang seniman. Manusia tidak boleh berkarya atas nama perbudakan,
alias bekerja dengan keterpaksaan. Eksploitasi secara besar – besaran demi
keuntungan ekonomi tidak akan memanusiakan manusia.
Ketika saya memahami
interaksi di Gang Sadar ada yang lebih dari sekedar kebutuhan ekonomi. Ada
interaksi antar manusia yang menggugah saya. Awalnya sulit memahami Bapak Bakir
yang jatuh cinta pada seorang Mami. Mereka bercerita tentang anak mereka yang
kuliah. Ternyata mereka juga punya cita – cita, sama seperti orang tua saya
juga.
Bagaimana bisa, di
tempat yang kebutuhan syahwat mudah dicari malah berpikir untuk jatuh cinta dan
berkeluarga. Kata – kata mami Ning, juga menyentak saya, “kamu belajar salon,
biar kalau udah gak laku ngelonte jadi bisa
bikin usaha” artinya ada kesadaran, mereka telah berada dalam ruangan yang
dianggap keji.
Manusia dalam segala
daya upaya mencari jalan yang lebih mudah untuk dapat hidup. Keberadaan prostitusi memang kompleks jika
didengungkan dari mimbar agama karena akan membuat orang menjauh.
Tempat prostitusi menjadi ruangan yang keji. Setiap
orang akan mengambil garis aman, yaitu ruangan suci dan mengambil jalan tidak
peduli. Jalan paling mudah adalah menunjuk mereka sebagai biang keladi
maksiat.
Saya belajar terlebih dahulu pahami penghargaan terhadap
kemanusiaan tanpa memandang identitasnya atau bahkan dosanya, barulah kita
dapat mengurai benang kusut dari prostitusi.
Sebagai mahasiswa
tingkat akhir yang sering bergulat dengan teori harus mengakui diri. Saya
ternyata sedikit sekali belajar tentang kehidupan. Ilmu tentang kehidupan
memang tidak pernah ada di SKS. Ilmu tentang kehidupan berserak dimana pun.
Untuk alasan itu, saya perlu berguru di Gang Sadar. Semoga betah.

0 komentar: