First Impression

Saturday, September 07, 2013 Standy Christianto 0 Comments

Pada mulanya adalah Manusia. Manusia dengan segala kemampuan dalam dirinya akan menguasai daerah kekuasaan. Ada sebuah ruangan yang memisahkan diri atau mungkin sengaja dipisahkan. Ruangan itu disebut agama dan masyarakat sebagai ruangan keji dan ruangan yang suci. Garis pemisah itu didengungkan dari mimbar – mimbar untuk memisahkan manusia. 

Kemudian manusia segala kemampuannya dengan segala dayanya, berkelompok dan berkuasa di daerah kekuasaannya itu. Mereka ada yang terdesak memenuhi ruangan keji. Ada ratusan manusia berhimpitan atas nama ekonomi rela mengorbankan tubuhnya diperlakukan apa saja setiap malam, demi  bisa  hidup.

Mungkin benar manusia akan meninggalkan jejak, yang ia sebut itu sebagai karya. Maka, setiap manusia adalah seorang seniman. Manusia tidak boleh berkarya atas nama perbudakan, alias bekerja dengan keterpaksaan. Eksploitasi secara besar – besaran demi keuntungan ekonomi tidak akan memanusiakan manusia.

Ketika saya memahami interaksi di Gang Sadar ada yang lebih dari sekedar kebutuhan ekonomi. Ada interaksi antar manusia yang menggugah saya. Awalnya sulit memahami Bapak Bakir yang jatuh cinta pada seorang Mami. Mereka bercerita tentang anak mereka yang kuliah. Ternyata mereka juga punya cita – cita, sama seperti orang tua saya juga. 

Bagaimana bisa, di tempat yang kebutuhan syahwat mudah dicari malah berpikir untuk jatuh cinta dan berkeluarga. Kata – kata mami Ning, juga menyentak saya, “kamu belajar salon, biar kalau udah gak laku ngelonte jadi  bisa bikin usaha” artinya ada kesadaran, mereka telah berada dalam ruangan yang dianggap keji.

Manusia dalam segala daya upaya mencari jalan yang lebih mudah untuk dapat hidup. Keberadaan prostitusi memang kompleks jika didengungkan dari mimbar agama karena akan membuat orang menjauh. 

Tempat prostitusi menjadi ruangan yang keji. Setiap orang akan mengambil garis aman, yaitu ruangan suci dan mengambil jalan tidak peduli. Jalan paling mudah adalah menunjuk mereka sebagai biang keladi maksiat. 

Saya belajar terlebih dahulu pahami penghargaan terhadap kemanusiaan tanpa memandang identitasnya atau bahkan dosanya, barulah kita dapat mengurai benang kusut dari prostitusi. 

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sering bergulat dengan teori harus mengakui diri. Saya ternyata sedikit sekali belajar tentang kehidupan. Ilmu tentang kehidupan memang tidak pernah ada di SKS. Ilmu tentang kehidupan berserak dimana pun. Untuk alasan itu, saya perlu berguru di Gang Sadar. Semoga betah.

You Might Also Like

0 komentar: