#14


Siapakah manusia lalu Engkau melihatnya dengan sungguh ?

Siapakah manusia lalu Engkau melihatnya dengan indah ?

Manusia dalam debu yang terserak di jalanan, penuh usang dan tidak dianggap. Engkau memungutnya dan membersihkannya, memperhatikan dengan seksama tanpa noda,

Sudah jauh aku meninggalkan,  terlalu lama juga tidak menghadap,

Mengapa Engkau tidak pergi meninggalkan manusia yang daif ini,

Engkau melihatnya tanpa ragu, langkahMu penuh kepastian untuk mendekap dalam pelukan erat. Dimanakah kesalahanku, Engkau menyembunyikannya dalam terang yang terpancar dalam senyuman,

Siapakah Engkau yang masih mau mendengar setiap helaan doa yang melantun dengan ragu. Bahkan Engkau mendekatkan telingamu agar bisikan terdengar,

Seberapa pentingkah masih mau melibatkan keresahanku tanpa mengingat-ingat kesalahan,

Dalam kesibukan, dari hari ke hari, melupakan dalam mimpi  yang terpimpin di kegelapan, bahkan masih mau meneranginya dalam kepastian,

Betapa baiknya, dan indahnya. Engkau melihatku bukan seperti debu yang kecil,


#13


Ketika badanmu tidak mampu terangkat dari kasur, 
mungkin ia sedang merindukan mimpi – mimpi yang sulit membuatmu terbangun.

Ketika matamu terpejam erat, 
mungkin ia sedang mencoba membayangkan pergi ke tempat yang paling  jauh.

Ketika jari tanganmu saling melipat kuat, 
mungkin ia sedang berdoa untuk kebahagiaan.

Ketika kakimu lurus selonjor, 
mungkin ia sedang ingin beradu lari dengan angin di alam bebas.

Ketika mulutmu terkatup erat,
mungkin ia sedang berpikir : bagaimana caranya untuk memulai ?

Kenapa Takut ?

Kita, aku dan kamu menciptakan ketakutan.  Kita harus memakluminya, karena manusia memang suka menciptakan ketakutan. Ketakutan yang dibuatnya sendiri. Manusia menciptakan kesukaannya terhadap penundukan dalam takut. Itulah mengapa banyak  manusia yang rela memacu ketakutannya di atas gunung dan di dalam samudera.

Begitu juga Tuhan, yang Agung itu, Ia 'diciptakan' manusia untuk menakuti manusia itu sendiri. Sampai lupa cara untuk mencintaiNya. Yang kemudian kesalehan adalah kurungan dalam ketidakberdayaan atas dunia yang tidak bisa diciptakan oleh manusia itu sendiri, yang mereka sebut itu neraka dan surga. Itu imajinasi yang sebenarnya untuk menakut-nakuti.

Ketakutan adalah kurungan yang tidak bisa membuat merdeka. Terkungkung seperti gajah yang berada di dalam sangkar kebun binatang, yang diikat kakinya dengan bandul besar, agar ia kesakitan dan takut untuk bergerak kemana pun.

Jadi.. kenapa kita musti takut ?

Tegak,


"Kamu adalah batu yang terkeras yang pernah ada, yang menantang angin di tengah deburan ombak, yang tak terkalahkan. Terpancang tegak menantang, menatap lautan biru nan luas, dan tak gentar.

Dunia tidak bisa mendiktemu dalam keangguhannya, merekalah yang akan melihatmu dengan menutup malu... 




Takut,

Saya lama tidak berbenturan dengan ketakutan yang sesungguhnya. Bukan berarti saya telah mati rasa, atau memang tidak ada lagi yang ditakuti. Saya merasa ketakutan yang menyelinap akhir –akhir ini adalah semu. Tapi sore ini setelah pulang kerja terakhir sebagai pekerja, saya merasakan ketakutan. Ya, saya  takut.

Keputusan yang lama sekali dibuat, akhirnya saya perlu bersikap. Saya merindukan dunia di luar sana yang liar, yang tidak jelas dan yang membuat takut. Karena keadaan yang nyaman membuat lemah, dan semakin lama membuat otot dan otak semakin tidak berdaya. Seperti semut berjalan di atas besi yang ujungnya dipanaskan. Ia merasakan kehangatan demi kehangatan, kelihatannya mengasyikan padahal mematikan.

Saya perlu ketakutan yang sesungguhnya, agar kemanusiaan terlihat, sebagai manusia yang  memiliki kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup. Yang mengerti bahwa setiap detik waktu adalah berharga. Saya tahu, suatu saat saya akan mati kelaparan, atau mungkin kelelahan karena berjalan terlalu lama.  Bukankah itu lebih baik daripada mati di atas besi tua yang panas, yang membuat mati karena tidak sadar bahwa kenyamanan akan membuat otak berhenti dan aliran darah mampat.

Sore ini, di tengah hiruk pikuk jalanan di pinggir kota kecil ini. Saya perlu melihat adakah yang perlu diselami lebih dalam. Sebagai manusia yang terlalu egois ini, mana lagi yang perlu dipelajari. Dan sebaiknya, perlu melarikan diri dari kepenatan atas diri sendiri yang tunduk dengan kenyamanan.

Saya mendengar dari ingatan dari suara waktu masih kecil, optimisme muncul tanpa diminta, kerinduan atas pemberontakan dan tidak mau mengalah atas pesimisme pun terdengar kembali. Optimisme semakin kuat di ujung jalan yang buntu ini.

Keraguan akan menyelinap di sela ketakutan, lalu membuat rasa takut menggeliat di dalam dada, membuat tersesak di tengah himpitan hinaan. Namun apa lagi yang diperlukan, selain berserah atas nasib baik dan akal sehat bahwa bagian terpenting dari manusia adalah dirinya sendiri. Dimanakah yang bisa diandalkan dari orang lain, jika mereka menghilang dalam keterpurukan, tapi  berpura-pura saat nasib baik berpihak.

Saya menikmati sukacita dalam ketakutan sendiri. Mungkinkah ketakutan terhadap keliaran dan kebebasan atas menentukan nasib sendiri adalah kemerdekaan? Ini keanehan dari seorang manusia yang ringkih ini, bahwa ia adalah manusia yang penakut namun haus akan ketidaknyamanan. Semoga kita bagian dari yang resah atas kenyamanan dan penakut dalam ketidaknyaman. Sehingga kita benar – benar menjadi manusia.