Jalan yang kemarin baru
kelihatan. Ini Perjalanan yang tidak pernah habis. Aku sudah melangkah sejauh
ini dengan langkah yakin tapi gontai. Suatu kali aku pernah berpikir, “kelak
siapa yang bisa kamu yakini, jika meyakinkan diri sendiri saja tidak mampu,”
Ada kalanya kamu lelah, namun
juga tidak mau menyerah. Percobaan demi percobaan memberikan gambaran, bahwa
sesungguhnya manusia yang paling baik adalah mereka yang ingin terus maju,
walau langkahmu terayun pelan dengan ragu.
Aku jadi ingat, kata – kata seorang
ayah, “jika kamu berhenti dalam usia muda, artinya kamu sudah tua,”. Aku pun
tidak pernah berhenti mencari jalan di tengah hunian ramai, yang kadang
tersesat, tapi langkahku tetap untuk tidak ingin berhenti. Seperti di kitab
amsal, ada yang menganggap jalannya lurus, tapi sebenarnya menuju maut.
Entah mungkin manusia yang daif
ini terlalu angkuh untuk mengatakan dirinya sedang lemah. Lagipula kalau saja
hidup ada pentunjuknya, tentu manusia tidak akan merasa tersesat. Salah siapa
ya, manusia dibiarkan berjalan tanpa
arah yang pasti. Pikiran yang melambung dan mimpi yang membumbung sudah
terlanjur membawanya pergi, jadi aku biarkan saja kemana arahnya.
Suatu kali aku terdiam dalam
lamunan kemudian larut didalamnya. Jika manusia diberikan imajinasi liar yang
membumbung, lalu imajinasi itu tidak bisa menjadi sebuah realita. Lalu untuk
apa manusia diberikan imajinasi? Ah, itu
mungkin melantur.
Suatu kali seorang pintar
berkata, imajinasi lebih penting daripada intelegensi. Tapi mungkin dia sedang
berbohong. Sesungguhnya intelegensi bisa membawamu pergi, namun imajinasi hanya
bisa membuatmu tertidur sampai pagi.
Bahwa hidup adalah labirin –
labirin ruang dan waktu, suatu ketika
tersesat dalam ruangan komplek, kemudian tidak tersadar kamu sedang terjebak di
pola waktu yang tidak punya toleransi. Padahal kamu diberi kesempatan untuk
mencari jalan keluar di ruangan yang kompleks itu. Imajinasi liar membawamu
keluar untuk mendapatkan tempat yang indah daripada di labirin – labirin ruang
itu.
Akh.. aku memilihnya untuk
membiarkan beradu sampai mati. Menikmati pergolakan dalam gemuruh keracauan
imajinasi dan intelegensi. Membiarkannya membumbung ke langit sampai menyentuh
bintang kemudian jatuh kembali ke bumi.
“Kuatir tidak bisa menambah
sehasta saja dalam hidupmu”, kata – kata itu menjadi pembuka tulisan ini yang
berisi keresahan. Dalam kehidupan usang, siapa pun tahu, ketidakpastian adalah
keniscayaan. Kemudian dalam langkah yang tertatih, aku pun harus melangkah dengan
yakin dalam ketidakpastian.
Mungkin kita beruntung, masih
punya kuatir yang begitu besar, agar otakmu terpakai, mungkin saja, sudah lama
tidak terpakai. Walaupun kamu tahu bahwa kapasitas otak dengan kemampuan
maksimalnya pun belum cukup untuk menebak ada apa di balik tembok besar yang
kamu takutkan itu.
Langkah yang yakin. Hati yang
mantap. Namun dipenuhi dengan ketidakpastian.
Teori The Law Of Attractive pernah
mengatakan demikian, “alam akan menarik hal – hal yang kamu pikirkan, dan akan
terjadi”. Menguatirkan hal yang negatif kemungkinan akan menarik semua energi
negatif. Lalu aku menjawab, “dari mana datangnya kuatir.. ?” darimana datangnya
kemampuan manusia yang berlebihan untuk mampu menebak – nebak ada apa di depan
sana.
Bukankah kuatir juga salah satu
ciri manusia yang modern, bahwa manusia bukan sekedar mamalia yang makan –
tidur – main, tanpa mampu memikirkan apa yang di depan. Manusia bukan kambing
yang hanya sekedar mengembik di pagi hari agar keluar dari kandang dan bermain
di rumput hijau. Lalu pulang, kemudian mengulanginya terus menerus.
Tembok yang menjulang tinggi di
depan, membuat otak manusia berputar – putar kemudian mengira- ngira ada apa di
balik tembok.
Langkah yang terayun pelan –
pelan, seperti detak jarum jam yang berputar searah otak yang berdetak juga..
tikk... tokk.. tikk... tokk.
Kalau kuatir tidak bisa menambah
sehasta saja dalam hidupmu. Tapi merasakan kuatir itu adalah ciri dari
kemanusiaan.
“Sejauh –jauhnya seseorang pergi, ia akan kembali ke rumah,”
begitu kata seorang teman yang merantau dari negeri jauh. Entah angin atau apa
yang ingin membuatnya pergi dari rumah. Kadang kala, tanpa alasan yang jelas,
kamu juga ingin sekali pergi meninggalkan rumah. Naluri membawamu untuk
menyelinap keramaian, kemudian meratapi kesendirian.
Pergilah sejauh mungkin, jika perlu carilah dunia yang ada
ujungnya. Walaupun dunia yang berujung sudah dipatahkan oleh Galileo Galilei.
Carilah sampai ujung. Ujung keceriaan dunia. Ketika kakimu letih berjalan,
itulah ujungnya. Carilah tempat yang bisa membuatmu berteriak sekeras –
kerasnya, mungkin dunia yang sumpek ini bisa terlihat lebih longgar.
Siapakah manusia lalu Engkau
melihatnya dengan sungguh ?
Siapakah manusia lalu Engkau
melihatnya dengan indah ?
Manusia dalam debu yang terserak
di jalanan, penuh usang dan tidak dianggap. Engkau memungutnya dan
membersihkannya, memperhatikan dengan seksama tanpa noda,
Sudah jauh aku meninggalkan, terlalu lama juga tidak menghadap,
Mengapa Engkau tidak pergi meninggalkan
manusia yang daif ini,
Engkau melihatnya tanpa ragu,
langkahMu penuh kepastian untuk mendekap dalam pelukan erat. Dimanakah
kesalahanku, Engkau menyembunyikannya dalam terang yang terpancar dalam
senyuman,
Siapakah Engkau yang masih mau
mendengar setiap helaan doa yang melantun dengan ragu. Bahkan Engkau mendekatkan
telingamu agar bisikan terdengar,
Seberapa pentingkah masih mau
melibatkan keresahanku tanpa mengingat-ingat kesalahan,
Dalam kesibukan, dari hari ke
hari, melupakan dalam mimpi yang
terpimpin di kegelapan, bahkan masih mau meneranginya dalam kepastian,
Betapa baiknya, dan indahnya.
Engkau melihatku bukan seperti debu yang kecil,