Aktivis Bodoh


SENGAJA diawali dengan kata bodoh. Entah ini terlalu kasar atau tidak. Ini memang sengaja dibuat untuk menyinggung. Istilah yang sering dipakai bagi orang yang menghabiskan lebih dari separuh kuliahnya untuk organisasi. 

TEORI kuliah mengurung kita dalam empat tembok ruang kelas. Pertarungan di  ruang ujian menjadi penentu siapa yang menang. Nilai akhir di kertas ujian menjadi tujuan utama. IPK menjadi harga mati. Laporan menjadi keramat.

SAYA sendiri tidak anti dengan kuliah. Bukan juga mendewakan nasakom (nasib satu koma). Tugas kita kuliah. Benar. Saya setuju.

SAYA juga tidak sedang membodohi aktivis. Saya juga tidak medewakan kutu buku, atau kutu laporan. Saya hanya mengangkat realita kehidupan kampus dari dua sisi. Alih – alih mau objektif, maaf bila condong ke satu sisi.

SAYA tidak mau disebut mahasiswa yang mengabaikan kuliah. Atau orang seperti saya – menghabiskan waktu untuk organisasi – pasti tidak mau disamakan dengan saya.

Kosong



Berada dalam ruangan kosong. Mencari jalan keluar. Yang ada hanya tembok, benar – benar kosong. Mata juga tak pernah berhenti memandang sekeliling. Semua tampak aneh. Lorong di kelilingi dengan pilar putih tinggi. Tidak ada yang menarik.

Saya diam. Terdiam lalu merenung.

Ada apa ini?

Saya berjalan lagi Perlahan – lahan. Selangkah demi selangkah. Saya bingung. Ada Jalan tapi tidak tahu arah. Saya ingin keluar dari ruang kosong ini.

Saya mencari pintu. Pintu yang lain. Bukan yang itu.

Saya berjalan lagi. Kali ini lebih cepat, buru – buru. Saya mulai takut. Ada apa ini?

Saya sendirian. Tidak ada yang menemani. Berada dalam ruang kosong. Mencari seorang temen. Kenapa begini ?

Kali ini lebih kencang. Jalan agak cepat, kadang juga berlari kecil. Dimana ada pintu yang lain?

Saya tidak bisa melawan. Tidak bisa keluar. Dipermainkan. Siapa dibalik itu ?

Keadaan memaksa untuk bertahan. Mencari jalan walau buntu.




Dicari : Presiden Sakti Mandraguna


Indonesia, dari ujung Sabang sampai Merauke.  Luas wilayahnya sebagian besar air, alias laut. Daratannya terbentang luas. Belasan ribu pulau dipisahkan air. Setiap pulau punya beragam suku, ras, adat, dan kepercayaan. Penduduknya terpadat nomor empat di dunia. Negara kepulauan terbesar di dunia. Ibarat sebuah pecahan kaca yang terberai, perlu presiden Sakti Madraguna alias maha berpengetahuan untuk menyatukan berbagai keragaman itu untuk menjadi satu : INDONESIA.

Sebagian yang merindukan kemerdekaan terenyuh, sudah merdeka 67 tahun namun tak benar – benar merdeka. Para petinggi negeri bangga rayakan  satu abad kebangkitan nasional, tapi banyak yang bilang belum ada yang bisa dibanggakan. Indonesia berkali – kali ganti presiden hanya bisa mengantarkan ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia. Lalu kita bertanya, apakah rakyat hanya untuk diantarkan sampai pintu gerbang ? Tidak masuk  ke tempat yang katanya merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Mengapa Mereka Manfaatkan yang Tidak Tahu ?




Entah apa alasan DLM menggunakan angkatan 2010 dan 2011 menjadi pelaksana Pemira. Seluruh  komposisi dalam KPR, BANWASRA, dan PPR adalah mahasiswa angkatan muda. Sejarah mencatat pemira yang baru pernah dilaksanakan beberapa kali ini tidak pernah berjalan mulus. Agak aneh jika Pemira BEM U yang sarat benturan kepentingan politis ini malah diurusi oleh angkatan yang sama sekali  belum pernah merasakannya.
Angkatan muda mungkin tidak tahu, pemira BEM U yang kali ini ditolak mentah – mentah oleh mahasiswa bukanlah yang pertama. Ajang perhelatan untuk mencari presiden BEM universitas ini, tidak pernah diterima dengan mulus. Dua tahun lalu, juga terjadi konflik besar. Pemira tahun 2009 dianggap cacat secara sistem. Satu pasangan calon menyatakan mundur di tengah jalan,  karena menganggap KPR hanya berorientasi hasil. Calon nomor urut dua menemukan kejanggalan dalam Pemira, terjadi pengelembungan suara diberbagai TPS.
Pemira tahun lalu 2010 juga demikian. Pemira diboikot. Di fakultas pertanian juga terjadi pemboikotan Pemira. Alasannya, MUSMA menyampingkan laporan pertanggungjawaban presiden. Hal ini disambut pemboikotan pemira di berbagai fakultas.  Pun kemudian, pemira ditunda pelaksanaannya.
Alasan penolakan sangat beralasan. BEM U ibarat “anak haram”. Kelahirannya tidak melalui mekanisme seharusnya. Wajar jika mahasiswa menggugat kelahirannya. Sebagai lembaga tingkat universitas, tidak melalui aspirasi fakultas  dibawahnya yang lebih dulu lahir. Alih – alih membentuk lembaga aspirasi yang demokratis malahan kelahirannya tidak melewati jalur demokrasi. Alasan itu tidak bisa dibantah. Juga saat debat capres Rabu lalu (21/3).
Dalam sebuah sistem, BEM U berhasil berdiri dengan angkuh. BEM fakultas yang lebih dulu lahir, sekarang tidak mendapatkan posisi tawar di rektorat. Karena alasan BEM yang pegang urusan tingkat universitas. Ironisnya, UKM tingkat universitas yang seharusnya merasa memiliki BEM U,  tidak merasa mendapatkan posisi tawar BEM U di rektorat. Di sekretariat PKM, BEM dan UKM berdiri sejajar. Semua kegiatan yang berlangsung di tingkat universitas dilakukan UKM sendiri, baik advokasi maupun fungsi memfasilitasi.
Apa peran BEM U selama ini yang hanya mampu membentuk laskar – laskaran dan event organizer, dapat dikatakan perlu dipertahankan? banyak fakta mengungkapkan kemandulan gerakan mahasiswa karena sistemnya, bukan sekedar kinerja presiden. Pemira akan sia – sia jika tetap dilakukan.

Puisi



Puisi yang ditulis oleh Russell Kelfer, diambil dari buku Purpose Driven Life (Rick Warren).

Anda adalah Anda karena suatu alasan
Anda adalah bagian dari suatu rencana yang kompleks
Anda adalah rancangan yang unik yang berharga dan sempurna
Disebut lelaki atau perempuan khusus milik Tuhan

Anda bertampang seperti Anda karena suatu alasan
Tuhan kita tidak membuat kesalahan
Dia merajut anda menjadi satu dalam kandungan
Anda benar – benar apa yang ingin Dia ciptakan

Orang tua yang Anda miliki adalah orang tua yang dipilih,
Dan ia tidak peduli bagaimana perasaan Anda
Mereka dirancang dengan pertimbangan  rencana Tuhan
Dan mereka memikul materai Tuhan

Tidak, trauma yang Anda hadapi tidaklah mudah
Dan Tuhan menangis karena trauma itu begitu menyakiti Anda,
Tetapi itu diizinkan untuk membentuk hati Anda
Supaya Anda bertumbuh menjadi serupa denganNya

Anda adalah Anda karena suatu alasan,
Anda telah dibentuk dengan tongkat Tuhan
Anda adalah Anda, kekasih
Karena ada Tuhan!