Kerinduan,

"Puncak rindu yang paling dahsyat tuh 
ketika dua orang tak saling sms/BBM/telepon, 
tapi diam-diam saling mendoakan."
 - Sudjiwo Tedjo

Dalam sebuah filsafat kerinduan di satu bab, Buku Manusia Pengembara : Refleksi Filosofis Tentang Manusia. Dua pribadi yang saling merindu adalah satu. KAU dan AKU memiliki arti filosofi yang mendalam. K-A-U dan A-K-U memiliki huruf sama namun berbeda dalam letak tempat. KAU dan AKU tidak bisa dipisahkan, huruf – huruf itu menjadikan kepribadian saling bertautan dan berelasi.

Penulisnya, Fransiskus Borgias M, mengutip manusia menurut Martin Buber, no man is an island. Realitasnya, tidak ada manusia yang terisolasi dari relasi. Yang khas dari relasi AKU-KAU berlangsung antar subjektif yang sadar dan otonom. Martin Buber menyebutkan ada dua orang sedang saling menyapa dalam dirinya masing – masing. Relasi saling menyapa ini membuat dialognya sendiri. Manusia akan bergumam dalam hati.

Rindu lahir dengan otonom. Utamanya, Karena AKU adalah subjek kerinduan sendiri. ke-AKU-an yang menyerah dalam keheningan. Ia jujur dalam ketidaktahuan. Buktinya, seorang akan keluar mencari dirinya yang lain karena merasakan kekurangan, kehilangan dan ketidakpenuhan di dalam dirinya sendiri.

Sayangnya, rindu telah mengalami devaluasi makna. Lahir dari lagu pop masa kini. Industri filim ikutan mereduksi agar laku dijual. Rindu menjadi penuh beribu syarat. Padahal kerinduan tidak lahir dari “rindu untuk, rindu karena, rindu agar,”. Kerinduan tidak memiliki alasan.

Kerinduan yang saya pahami dari bab di buku itu, sangat misterius. Tidak menjelaskan secara rinci. Satu-satunya yang saya pahami : ada relasi AKU-KAU. Kemudian AKU-KAU berdialog dalam keheningannya sendiri.

Kemudian, masih di buku itu juga, kerinduan antara dua manusia tidak juga lebih baik dari kerinduan manusia pada hal yang transenden. Dalam sebuah pencariannya, seseorang bermazmur dalam sebuah syair bait,

Seperti rusa yang merindukan aliran air, begitu juga jiwaku merindukan Engkau Tuhan,”

Sembari membaca buku Karen Amstrong, “awal sejarah Tuhan”, rupanya perjalanan onggokan manusia mencari keberadaan penciptaannnya sudah dimulai dari zaman aksial. Dahulu manusia begitu penuh kerendahan mencari Tuhan, tanpa tendensius untuk keperluan pribadinya. Puisi ini merupakan brahmodya.

“siapakah yang tahu dan siapakah yang bisa memastikan, kapan dia dilahirkan dan kapan datangnya ciptaan ini?
Dewa-dewa lebih dahulu daripada penciptaan ini. Siapa yang tahu kapan dia pertama kali mewujud?Dia, asal usul pertama ciptaan ini, entah dia yang membentuk atau tidak,
Mata siapa yang mengawasi dunia ini dari langit tertinggi, dialah yang paling mengetahuinya – atau barangkali dia tidak tahu”

Brahmodya semacam ritual dalam keheningan guna mencari  jawaban atas kemisteriusan. Sang rishi (seorang bijak) mengajukan pertanyaan yang tidak terpahamkan, hingga akhirnya baik dia maupun pendengarnya juga terdiam dalam ketidaktahuan.

Hampir mirip dengan ketidakpenuhan karena merindu. Ada seorang manusia yang mencari jawaban atas ketidaktahuan dalam dirinya. Dalam kerinduannya, manusia  juga menyerah dalam ketidaktahuan.


Ada Waktu,

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Ada waktu untuk lahir. Ada waktu untuk meninggal. Ada waktu menanam . Ada waktu memanen. Ada waktu terluka. Ada waktu penyembuhan. Ada waktu merombak. Ada waktu membangun. Ada waktu untuk menangis. Ada waktu tertawa. Ada waktu meratapi. Ada waktu bermimpi. Ada waktu mencari. Ada waktu memberi. Ada waktu menyimpan. Ada waktu membuang. Ada waktu bicara. Ada waktu diam. Ada waktu untuk membenci. Ada waktu untuk mengasihi. 

Segala sesuatu ada waktunya. Pantaskah manusia lelah sedangkan segalanya telah disiapkan? Pantaskan manusia terlalu dalam meratapi sedangkan yang indah telah dipersiapkan? Pantaskah manusia berhenti bertanya tentang apa pun sedangkan ia terus dihujani jawaban?  

Elysium,

Elysium adalah masuk akal. Ia bisa muncul dalam keyakinan juga kebutuhan. Keyakinan atas  dirinya sendiri tentang sebuah kebutuhan atau keinginan. Elysium adalah dunia di atas sana yang seakan memberikan semuanya serba enak. Elyisum bak sorga dalam kitab suci. Ada dunia tinggal tunjuk kemudian muncul begitu saja.

Elysium adalah legenda Yunani, saya tidak persis tahu. Namun saya memahami ada konsep menarik dari dunia lain yang menawarkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang datang dari keinginan manusia untuk sesuatu. Manusia mana yang tidak ingin serba senang dan enak.  Elysium lahir karena keinginan akan kebahagiaan dan kesenangan.

Tiba – tiba saya teringat Platon, ketika ia bicara soal kesuksesan.Kesuksesan yang tidak seperti hari – hari yang saya dengar dari acara motivasi. Ia berpikir sederhana dengan arti sukses, bila manusia jaman ini mendefinisikan sukses sesuatu yang membebankan, baginya sukses adalah kebebasan berpikir manusia dalam menentukan pilihannya. Pikirannnya tidak direduksi oleh orang lain, apalagi  tereduksi dengan acara sinetron berisi kemewahan.

Bukan karena Platon tidak pernah menonton televisi. Tapi karena ia mengerti kehendak manusia begitu liar dengan segala justifikasi dari orang lain. Ia memahami kebutuhan manusia dengan cara yang sederhana. Manusia hanya perlu kebebasan berpikir.

Bukankah setiap orang bebas membuat elysiumnya sendiri ?

Saya membuat elysium di kamar yang baru. Saya menata buku – buku yang belum selesai dibaca di sudut kamar.  Saya menikmati udara dingin pagi yang begitu menusuk. Saya bisa bermimpi bebas dengan tanpa bising kendaraan bermotor. Buat saya itu elysium.

Elyisum masuk akal jika kita mau membuatnya sendiri.

Elysium tidak saya temukan di resensi film atau di jaman Platon. Saya temukan Elysium dalam sebuah ruangan kumpulan para perempuan yang harus hidup dengan virus mematikan. Virus yang tidak bisa disembuhkan. Perempuan yang tinggal menunggu ajal. Ibu yang bergulat memikirkan dirinya dan anaknya. bagi seorang perempuan seperti ini, Elysium begitu dekat dan lekat.

Mereka terdiri dari wanita yang berbagai profesi  mulai dari guru, wiraswata, ibu rumah tangga, sampai  pekerja seks yang usia puluhan tahun sampai Pekerja seks yang uzur.  Buat mereka elysium begitu sederhana. Dimulai dari dua pertanyaan : Apa yang masa lalu yang berkesan buat mereka dan apa yang akan mereka harapkan kelak?




Elysium - Elysium 
Elysium dari Seorang wanita Pekerja Seks

Elysium begitu sederhana

masa lalu dan masa depan

Pengin uang banyak buat bikin gerobak

Pertama kali menjadi seorang ibu

First Impression

Pada mulanya adalah Manusia. Manusia dengan segala kemampuan dalam dirinya akan menguasai daerah kekuasaan. Ada sebuah ruangan yang memisahkan diri atau mungkin sengaja dipisahkan. Ruangan itu disebut agama dan masyarakat sebagai ruangan keji dan ruangan yang suci. Garis pemisah itu didengungkan dari mimbar – mimbar untuk memisahkan manusia. 

Kemudian manusia segala kemampuannya dengan segala dayanya, berkelompok dan berkuasa di daerah kekuasaannya itu. Mereka ada yang terdesak memenuhi ruangan keji. Ada ratusan manusia berhimpitan atas nama ekonomi rela mengorbankan tubuhnya diperlakukan apa saja setiap malam, demi  bisa  hidup.

Mungkin benar manusia akan meninggalkan jejak, yang ia sebut itu sebagai karya. Maka, setiap manusia adalah seorang seniman. Manusia tidak boleh berkarya atas nama perbudakan, alias bekerja dengan keterpaksaan. Eksploitasi secara besar – besaran demi keuntungan ekonomi tidak akan memanusiakan manusia.

Ketika saya memahami interaksi di Gang Sadar ada yang lebih dari sekedar kebutuhan ekonomi. Ada interaksi antar manusia yang menggugah saya. Awalnya sulit memahami Bapak Bakir yang jatuh cinta pada seorang Mami. Mereka bercerita tentang anak mereka yang kuliah. Ternyata mereka juga punya cita – cita, sama seperti orang tua saya juga. 

Bagaimana bisa, di tempat yang kebutuhan syahwat mudah dicari malah berpikir untuk jatuh cinta dan berkeluarga. Kata – kata mami Ning, juga menyentak saya, “kamu belajar salon, biar kalau udah gak laku ngelonte jadi  bisa bikin usaha” artinya ada kesadaran, mereka telah berada dalam ruangan yang dianggap keji.

Manusia dalam segala daya upaya mencari jalan yang lebih mudah untuk dapat hidup. Keberadaan prostitusi memang kompleks jika didengungkan dari mimbar agama karena akan membuat orang menjauh. 

Tempat prostitusi menjadi ruangan yang keji. Setiap orang akan mengambil garis aman, yaitu ruangan suci dan mengambil jalan tidak peduli. Jalan paling mudah adalah menunjuk mereka sebagai biang keladi maksiat. 

Saya belajar terlebih dahulu pahami penghargaan terhadap kemanusiaan tanpa memandang identitasnya atau bahkan dosanya, barulah kita dapat mengurai benang kusut dari prostitusi. 

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sering bergulat dengan teori harus mengakui diri. Saya ternyata sedikit sekali belajar tentang kehidupan. Ilmu tentang kehidupan memang tidak pernah ada di SKS. Ilmu tentang kehidupan berserak dimana pun. Untuk alasan itu, saya perlu berguru di Gang Sadar. Semoga betah.

#7

Ada yang meluap dalam keheningan diri. Terus menerus ia berteriak dalam riak. Saya belajar bagaimana manusia harus tunduk dengan hal transenden. Alasannya sederhana, bukankah semua orang akan mengalami bagian yang tidak bisa ia pahami, yaitu perihal di luar batas kemauan dan kemampuannnya.

Ia tidak mau, tapi ia tidak bisa menolak.  Seakan ada yang memaksa untuk bergerak, merusak ketenangan dalam dirinya. Pilihannnya terbagi dengan dualisme : ia mau melawan atau menyerah.  Saya memilih untuk menyerah. Alasannya juga sederhana, agar ia jujur dengan intuisi.

Naluri manusia untuk mengikuti suara hatinya. Mungkin suatu saat ia berpikir itu adalah kelemahan. Tapi tidak apa. Ia menunjukan manusia harus tunduk dengan sisi yang lemah juga. Keberhasilan manusia adalah mengakui kelemahan.  Karena tidak ada kesempurnaan.