Hidup adalah kesempatan, manfaatkanlah.
Hidup adalah keindahan, kagumilah.
Hidup adalah kebahagiaan, nikmatilah.
Hidup adalah mimpi, sadarlah.
Hidup adalah tantangan, hadapilah.
Hidup adalah kewajiban, selesaikanlah.
Hidup adalah permainan, mainkanlah.
Hidup adalah sebuah janji, penuhilah.
Hidup adalah penderitaan, atasilah.
Hidup adalah kidung, nyanyikanlah.
Hidup adalah perjuangan, terimalah.
Hidup adalah tragedi, berjuanglah.
Hidup adalah petualangan, beranilah.
Hidup adalah keberuntungan, lakukanlah.
Hidup terlalu berharga, jangan dihancurkan.
Hidup adalah hidup, berjuanglah untuknya!
(Mother
Teresa)
Apakah yang dicari dari segala
perasaan yang meluap ? yang mengebu dengan segala rasa di ubun-ubun. Aku mencari
ketenangan dalam keheningan. Dimanakah tenang itu ? Aku mencari di atas kasur
ditemani dengan lagu – lagu menggugah optimis. Dimanakah itu ?
Ketenangan itu muncul dari
pertanyaan : mengapakah saya terlalu menuntut banyak hal ? Bukankah berjanji untuk menemani tanpa pamrih. Ternyata ada pamrih yang membuat tidak tenang. Perasaan balasan penghargaan yang setimpal.
Siapakah aku ? lalu kemudian
menuntut banyak hal. Kesalahan pria dilahirkan dengan segala
rasionalisasi karena khilaf dengan perasaannnya.
Selalu ada ketenangan dalam
sebuah ketulusan. Ketulusan tidak meminta apa pun dari sebuah keberadaan. Tidak
meminta apa pun, bahkan balasan. Ketulusan tidak punya alasan untuk pemaksaan.
Sesuatu yang abstrak, selalu
dapat diuji. Seperti Kepercayaan, kesetiaan dan pengorbanan yang saya kagumi. Begitu
juga dengan ketulusan.
Pembelajaran yang belum saya
pelajari adalah soal ketulusan. Ketulusan tidak memberi ruang pembalasan. Ia
lahir dari dalam hati kemudian memberi kepada suatu yang berharga.
Lakukan yang
terbaik untuk apa pun yang bagimu berharga. Begitulah kira – kira pembuktiannnya.
Maaf untuk
segala permintaan keberadaan atau kebutuhan. Maaf untuk segala apa pun untuk
penghargan diri. Maaf untuk segala perdebatan soal pilihan. Maaf untuk segala
tuntutan jeda waktu.
Aku ingin
tenang menikmati hari – hari ini. Dengan segala apa yang telah berikan. Atas
nama ketulusan terhadap penghargaan atas keberadaanya. Terima kasih atas segala hal. Terima kasih
dengan atas nama apa pun.
Kembali pada sebuah pilihan. Hidup akan jalan terus, sampai
ketemu persimpangan. Tidak ada pilihan lain selain memilih. Saya mau jalan ke kanan
atau ke kiri. Saya selalu berusaha mengingat segala sesuatu yang mendasari
sebuah perjalanan di kota ini. Kemudian saya juga harus mengulanginya lagi.
Pergulatan pilihan terjadi. Saya
memiliki banyak pilihan setelah semuanya selesai. Pergi meninggalkan kota kecil
ini atau menetap sampai menemukan jalan
lain.
Suatu saat kota ini bisa saja
membunuh saya dengan kebosanan. Atau bisa pelan – pelan dengan penyesalan. Atau
saya akan mati kelaparan. Atau mati karena sakit hati.
Entah bagaimana pun saya juga
harus memilih, bukan ? Ibarat menaiki seekor harimau, mau turun juga akan
dimakan harimau, mau tetap di atas
punggung juga resiko dimakan harimau. Saya memilih berjuang untuk tetap
bertahan dengan segala isinya. Sampai saya bisa menemukan keyakinan lain.
Ayah saya, juga pernah bicara
sebuah pilihan. Ia memilih berkerja
sendiri daripada kerja untuk orang lain. Ia memilih untuk tetap membuka toko
kecil untuk menghidupi keluarganya daripada menerima tawaran bekerja untuk
orang. katanya, atas dasar kebebasan. Baginya, kebahagiaan adalah soal
kebebasan memilih dan berkehendak bukan bekerja untuk orang lain.
Pilihan akan membuat manusia
makin menjadi manusia saat benar – benar menghadapi ketidakpastian. Kemudian
ia harus berpikir keras untuk berhitung ke depan. Ia akan mengunakan segala
otaknya, segala kemungkinan terburuk, berhitung dengan segala ketidakmungkinan.
Jalan pikirannya akan mengular, seperti benang kusut. Sejak saat itulah,
manusia bisa bebas menentukan pilihannnya.
Mungkin bukan untuk waktu lama
tapi cukup untuk mencari panggilan atas pertanyaan. Dengan segala pertimbangan,
tempat ini akan menjadi saksi segala pertanyaan yang (belum) ada jawaban.
Kemudian dari satu sisi. Dia menyaru kuat dalam kesibukan.
Membuat kepalan tangan mengadah ke langit. Penunjuk Kekuatan.
Kemudian dari sisi lain. Ada kendaraan melaju kencang. Ada
bunga – bunga indah di pinggiran. Lewat begitu saja.
Kemudian mencari sisi lain. Mengintip dari celah kecil. Ada
cahaya menyilaukan mata. Ia tetap lari tergesa. Membiarkan saja.
Kemudian berhenti di tengah sisi. Ia terdiam. Merenung.