Benci,

Aku ingin bisa membencimu. Lebih dari apa pun, ajarilah aku untuk membencimu. Bagaimana caranya agar aku bisa membencimu ?

Aku pahami kamu mungkin lebih dari kau tahu. Entah dari mana aku tahu itu. Sila bertahan dengan arogansimu. Dengan sengaja berbuat  salah agar aku bisa membencimu.

Mari kita beradu, siapa yang akan membenci lebih dulu ?
Aku atau kau.

Aku rela dibenci terlebih dahulu. Lakukan itu. Lakukan. Maki aku. Marahi aku. Umpati aku. Pukuli aku. Sakiti aku. 

Dari kebencianmu mungkin aku bisa menyerah. Karena aku tidak punya alasan membencimu.

Tapi jika kebencian kepadaku juga tidak ada. Maukah kau menyerah  dari  arogansimu ?
...
Ayahku pernah bilang, benci tidak akan datang jika kasih terlalu besar.  Yang aku tahu, bahwa lawan kata dari kasih adalah mementingkan diri sendiri. Kasih bisa mengalahkan segalanya. Kasih bisa melegakan. Aku lebih percaya dengan itu daripada sebuah arogansi.

Mungkin aku terlalu idealis bicara soal itu. Tapi kacamata ini yang aku pakai. Kasih punya kekuatan. Ia tidak lahir tiba – tiba. Ia adalah fragmen kecil yang dibuat menjadi semakin membesar.

Bagaimana bisa membenci jika ia punya kasih terlalu besar. Siapakah manusia dengan segala dosanya, kemudian Tuhan tidak pernah lihat itu ? Darimanakah manusia bisa mendapat tempat?
...
Atas nama arogansi, sila benci aku. Dengan segala daya, sila marahi aku. Lakukan saja jika itu memang melegakan.

Jika itu juga tidak bisa melegakan. Bersediakah kau menyerah dengan arogansimu ? Lalu kembali kepadaku, masih banyak hal yang belum selesai.





Tanya,

Hari yang begitu padat dengan segala yang itu – itu saja lama kelamaan akan membunuh. Seperti kura – kura yang berada di dalam ember di letakan depan pintu kamar. Saya mungkin sejenis hamster yang dipelihara untuk dinikmati dalam kandang berdinding kaca. Saya binatang alam bebas yang tidak punya tempat tinggal yang pantas. Tentu saja, saya berdinding segala persyaratan dan pertanyaan.

Tumpukan berkas – berkas tugas akhir telah membuat ketidaknyamanan. Ia sejenis mantra ampuh untuk terus bertanya. Saya hidup tanpa alasan apapun selain menyelesaikan persyaratan yang bejibun, kemudian selalu ada pertanyaan dalam keresahan :  setelah semuanya selesai lalu apa ?

Bisa jadi saya sedang ketakutan dengan segala kemungkinan yang terjadi. Atau saya enggan keluar dengan rutinitas yang terlanjur menyaru. Entahlah tapi pertanyaan itu selalu hinggap disela – sela mengerjakan rutinitas.

Hidup untuk apa? Pertanyaan juga melintas dalam pikiran. Pagi hari menikmati segelas susu hangat ditemani roti tawar. Kemudian kenikmatan pagi berhasil dijelaskan dengan roti yang dicelupkan hingga susu meresap ke dalam pori. Ehhmm.. begitu nikmat. Tapi udara pagi yang menusuk keluar dari sela-sela lubang tembok seakan membawa pertanyaan, apakah hidup hanya sekedar menikmati pagi bersama susu dan roti ?

Setelah semuanya selesai, saya memakai toga simbol perguruan tinggi ini. Berada dalam auditorium nan megah mengikuti prosesi pelepasan simbol kemunafikan. Lima tahun kuliah dibingkai dengan guratan senyum bersama keluarga dalam sebuah foto ukuran 10 R, kemudian setelah itu apa ?

Banyak yang memberikan jawaban dengan muka datar tanpa menunggu saya selesai menjelaskan keresahan, ia dengan muka begitu enteng, menjelaskan mengalir saja tanpa beban apapun, tanpa berkeinginan apa pun, tapi tetap saja otak tidak mau mengalah untuk menerima alasan.

Saya mengalah dengan melihat contoh, misalnya kakak saya yang sebentar lagi menikah. Ia juga bisa mengambarkan kehidupan pasca memakai toga. Ia kerja selama 4 tahun mengumpulkan duit untuk saya dan keluarga, kemudian mengumpulkan duit untuk menikah dengan seorang wanita yang  dicintainya, kemudian membeli rumah untuk ditinggali  berdua dan kelak dengan anak – anaknya.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah pilihan yang baik. Di sudut yang lain, ada wanita yang ditelantarkan oleh suaminya. Mereka tidak mendapatkan apa pun selain trauma dan frustasi dengan segala hujatan terhadap komitmen pernikahan. Kemudian setiap malam memilih tubuh diberikan kepada laki-laki demi dapat hidup. Buktinya, ada juga wanita yang hidupnya tidak pernah tenang setiap malam, sembari menunggu tamu, ia juga resah dengan hidup anaknya di desa.

Artinya, tidak selamanya juga begitu menarik. Apalagi yang percaya bahwa ada hidup ‘selibat’. Bisa jadi, tidak menikah adalah pilihan yang terbaik bagi manusia. Ia akan bisa mencari jalan dalam hidupnya sendiri, seperti orang suci di gereja katolik, melayani orang miskin, orang-orang  yang tidak pernah dipikirkan oleh sepasang manusia yang egois. Atau mungkin saja hidup seperti Bapuji, Mahatma Gandhi, yang tinggal di Ashram Sevagram, atau Budha Sidharta Gautama yang mendapatkan pencerah di Gunung Vindya, tampaknya hidupnya lebih menenangkan daripada harus mengurusi tetek bengek pribadinya. Lebih baik mengurusi orang lain yang membutuhkan bantuan.

Ada juga manusia yang mencari kehidupan setelah kematian, kemudian menjadi narsistik dengan mengagungkan ajaran – ajaran begitu egois, lupa dengan hubungan manusia lainnya. Ia bebas mengunakan atas nama Sang Kuasa, lalu menghujat manusia dengan segala kekurangannya demi mendapat tempat yang tidak pernah dijelaskan benar ada atau tidak. Mereka mencari kebahagiaan setelah kematian. Tapi harus mengorbankan kehidupan yang lebih nyata. Buat saya, itu sama saja bunuh diri dalam kehidupan nyata. 

Ada kontradiksi yang menyelinap dari syaraf kepala. 

Kemudian setelah persyaratan selesai, saya berhasil mengenapi harapan orang tua menjadi sarjana, kemudian lalu apa? bekerja dengan segala rutinitas yang pasti membosankan itu, mencari uang agar dapat hidup, kemudian mencari hiburan di sela – sela pekerjaan yang angkuh ? saya akan mati kebosanan.

Menuliskan ini tanpa alasan pun juga sebuah perjalanan yang ampuh untuk terus bertanya. Karena kehidupan juga tidak akan pernah selesai untuk manusia yang diam saja mengikuti arus, lalu memilih tidak bertanya apapun. Yang tentu saja tidak mendapatkan jawaban. Paling tidak saya mensyukuri menjadi seorang manusia, yaitu tidak menghentikan jalannya otak yang dibuat sangat agung.

Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Penunjuk waktu di pojok kiri bawah sudah berganti dua angka di depan. Ini sudah terlalu lama saya berkutat. Buat sebagian orang pasti ini adalah kebodohan. Sekali lagi, saya  bertanya dengan segala ketidaktahuannnya dan  tidak pernah mendapatkan jawabannya.


Penat,

Ada lagi yang menyeruak dari dalam. Bertanya lagi tentang saya dan masa depan. Barangkali itu yang dimaksud tersesat dalam kesibukan lalu mencari jalan keluar dari kerja yang penat.

Entahlah tapi lama – kelamaan saya membutuhkan tempat untuk keluar dari segala rutinitas yang membunuh  ini. Ruangan ini terlalu penat bagi  mahasiswa tingkat akhir yang berkejaran dengan persyaratan administrasi.

Entahlah tapi lama – kelamaan saya resah. Apakah hari hanya sekedar ini ?

Coba ajak saya keluar dari sini. Ajak saya bermain dengan masa depan yang memang ada itu. Ada apa disana. Sehingga tidak perlu saya bergulat dengan bahan  yang tidak penting. Tidak perlu juga bertemu dengan orang – orang yang sama juga mengeluh dan menghujat hari. Sehingga saya tidak punya legitimasi melakukan hal yang sama.

Coba ajak saya keluar dari sini. Ajak saya ke pantai melihat senja yang lama tidak dikunjungi. Biarkan saya memandang luas tanpa halangan, sehingga saya tidak perlu memikirkan akan ada apa di hari esok. Tidak perlu juga bertemu dengan kesibukan orang lalu lalang dengan muka yang dikejar target pekerjaan. 

Coba ajak saya keluar dari sini. Ajak saya ke tempat untuk berteriak sekerasnya. Saya akan berteriak untuk meminta supaya hari cepat  berganti.


Coba ajak saya keluar dari sini. Sehingga saya bisa lari dari alarm jam atau kalender yang ditandai..

Alienasi,

Setiap manusia mempunyai cara untuk memecah penat dan jenuh.  Bagi saya, penat bisa dipecahkan oleh roti dan segelas susu putih yang panas. Saya tidak terlalu suka kopi ataupun teh. Karena kafein hanya mampu membuat jantung berdegup keras tanpa ketenangan dan teh hanya sejenis air dedaunan kering yang encer.  Lain lagi mungkin dengan orang yang lebih suka menyeruput kopi,

Di tengah keriuhan hari – hari yang padat merayap saya selalu mencari waktu luang untuk bisa menuliskan  sesuatu dengan keluhan, atau sekedar mencari teman minum susu di rak-rak buku. Kenikmatan ini tidak bisa ditemukan di jaringan internet kecepatan apa pun. Ini lebih nyata dari  mainan media sosial yang itu-itu aja

Tingkah pola manusia dalam mencari jalan keluar dari kepenatannya semakin aneh dengan seiring beban dalam dirinya. Entah mungkin saya salah. Tapi paling tidak saya punya gambaran di tengah hingar bingar ini, bahwa manusia secara sadar dan sengaja mencari ruangan untuk meng-alienasi diri.

Saya mencoba memahami para wanita yang hidupnya penuh beban dan  tekanan. Setiap malam Mereka melayani pria-pria hidung belang dengan keterpaksaan. Sudah tentu mereka punya lebih dari sekedar penat dan jenuh.

Ada berbagai cara mereka untuk menarik diri dari dunia yang congkak ini. Ada yang sengaja mengoreskan benda tajam di lengan tangannya. Awalnya, saya tidak tahu kalau itu adalah kesengajaan. Semakin saya perhatikan di tangan para wanita itu, semakin banyak  ditemukan tanda yang sama.

Setelah bertanya, saya mulai memahami ada korelasi benda tajam yang sengaja disayat di lengan kiri dengan isi kepalanya. Tentu saja, bagi seorang wanita yang harus menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai pemuas syahwat, akan kesulitan mencari pembenaran atas pilihannya. Sayatan itu adalah simbol kebuntuan.

Televisi dengan lagu karaoke volume tinggi juga menjadi teman mereka dalam mengalienasi diri. Setiap rumah memiliki televisi layar besar dengan pengeras suara tingkat tinggi. Demi mempelajari sebuah kehidupan itu, mau tidak mau saya harus menyukai lagu dangdut, musik yang menurut saya aneh. Ternyata benar, bebunyian gendang asik juga.  Terpaksa, saya mulai terbiasa dengar bebunyian gendang yang membuat  berjoget riang.

Satu –satunya jalan yang bisa saya pahami kalau mereka memang dalam keadaan yang penuh dengan beban dan tekanan, adalah soal rokok. Rokok buat mereka adalah pengusir stres paling ampuh,  dapat sembunyi dalam hisapan asap. kemudian melepaskan penat dari kepulan asap. Dulu saya melakukannya, sekarang itu jadi tidak masuk akal.

Selebihnya, saya tidak bisa sok tahu mendalami lebih lagi.

Mau bagaimana pun manusia adalah mahluk yang paling mudah berbohong dalam pola dan laku. Dalam penglihatan sekilas, mereka memiliki kehidupan yang hedon, selalu tersedia makan yang mewah dan kehidupan malam yang bebas, serta mampu jalan – jalan kemana pun mereka ingin. Tidak heran karena mereka bisa dapat ratusan ribu sampai jutaan rupiah dalam semalam bekerja. Kelihatannya mereka mampu tertawa lepas ketika bersama dengan yang lain. Namun tidak ada yang tahu ketika berada dalam kesendirianya.

Saya yakin, sebaik – baiknya manusia dalam kesendiriannya akan mencoba mengevaluasi dirinya, adakah yang salah dalam dirinya, apakah dirinya cukup baik buat semua orang, apakah yang dilakukannnya benar,

Kemudian, ia mulai mengambil ruang alienasi di sudut kamar bersama kasur dan bantal, mungkin di toilet sambil merenungi kloset, atau di ruang kelas sambil menulis di lembar belakang buku, bisa juga di ruang tamu sambil menonton televisi, bisa dimana pun. Pikirannya akan mulai menari dalam keresahannya. Mungkin sekilas dalam ketidaksadaran. Atau bahkan beradu dalam penyesalan.

Roti dan susu panas sembari membuat tulisan ini adalah simbol dari kejujuran saya sebagai manusia. Karena sebaik-baiknya manusia perlu juga mengambil tempat di sudut ruangan menyadari manusia tidak melulu soal hingar bingar. Ada saatnya nanti kita terdesak ke sudut kemudian merasa terasing. Alienasi kadang dibutuhkan untuk memikirkan yang telah terjadi, tapi juga tidak terperangkap dengan yang lalu. Seperti kata ayah saya, “apapun yang terjadi, hidup harus jalan terus, “.








Kau dan Mimpi,

Halo Kau dan Mimpi,
Bukankah ada dimensi waktu yang  mengikuti manusia. Kesejarahanlah yang mampu dipakai oleh manusia itu sendiri. Berkaitan dengan dimensi kesejarahan itu, maka hidup manusia terbentang dalam tiga kurun waktu : masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa yang telah berlalu, masa yang telah dilalui dan masa yang akan dilalui.

Dan masa kini sejatinya adalah selaput tipis antara masa lalu dan masa depan.

Hari - hari ini aku memahami bagaimana manusia berhak berkeinginan di masa depan. Entah begitu mengasyikan hidup dalam imaji ke depan. Kau yang disana, yang sering kali bicara tentang mimpi, apakah kamu takut lagi bermimpi ?

Apakah aku tidak juga cukup menjelaskan setiap orang pantas untuk memiliki keinginan masa depan ? Entah mungkin terlalu lama kita berbincang hal basi. Sehingga kamu pun muak dengan itu. Atau aku sudah menjenuhkan untukmu.

Halo Kau dan Mimpi,
Sudah lama tidak bertemu untuk sekedar bersendau gurau atau apa pun itu. Salah aku mungkin yang tidak bisa mengajakmu pergi selain dunia yang penuh dengan ambisi.

Aku ingin sekali bertemu. Aku punya cerita. Aku punya kamar baru ukuran kecil. Kamar ini sangat dingin. Tapi tidak apa – apa. Hanya saja aku baru sadar kalau dingin bisa membuat menggigil dan mengilu. Aku bisa melakukan apa pun disini termasuk meneruskan membaca buku yang telah lama aku beli. Atau menuliskan ini sambil mengilu.  Mengilu karena rindu.

Halo Kau dan Mimpi,
Aku baru saja pulang melewati jalan dan kafe itu. Seingatku, pertama kali kita bertemu, aku melihat matamu berkelindan dengan lampu kekuningan di malam itu. Entahlah mengapa ingatan pertamaku adalah itu. Mungkin banyak yang dilakukan tapi aku hanya ingat itu. Kedua yang aku ingat adalah buku. Bagaimana aku tidak ingat , buku esai bahasa inggris itu ada masih di sampingku ketika tidur. Buku itu juga selalu aku ingat karena mimpi. Mimpiku untuk bisa cas-cis-cus berbahasa inggris. Buku itu yang membuatku semangat berlari kencang.

Entahlah mungkin aku yang terlalu basi mengajakmu berlari. Sehingga kamu asik  dengan yang lain. Kamu terlalu sibuk mungkin. Tidak ada satu pun alasan untuk mengganggumu. Jika aku mengganggu atau tidak, kamu pun bisa mengusirku secara diam -diam. Aku tidak akan tanya alasan, karena aku harus mengerti.

Atau aku yang tidak sadar kalau aku yang terlalu sibuk mengurusi para pelacur. Kalau pun aku terlihat sibuk, tetap saja makan dan tidurmu yang ada di pikiranku.

Halo Kau dan Mimpi,
Segala apa pun yang mengingatku, lagu adalah yang paling aku ingat. Aku memutarnya berulang kali sampai aku terlelap hingga terjaga dari tidurku, sekedar melihat pesan singkat pengantar tidur, memastikan apakah kamu sudah terlelap, kemudian aku tidur lagi. Seingatku lagu itu tanda optimisme kalau ada ketenangan dalam setiap langkah di pagi hari. Mungkin aku pernah bercerita, rumah adalah tempat yang paling nyaman buatku. Lagu itu mewakili itu. Perasaaanku begitu tenang dengan lagu itu.

Oh iya, entah bagaimana caramu mengingat aku, aku cukup beruntung, aku bisa pergi ke tempat itu lagi sekedar melihat senja di sore hari. Aku masih mengingat jelas, mungkin pasir pantai membantuku mengingat senyummu bermain air, maaf bukannnya aku tidak ingin melihat air dan riangmu bercampur kemudian membasahi celanamu. Aku tidak ingin kamu menggigil karena masuk angin, karena aku harus mengantarmu pulang dengan motorku.

Ya, motor yang memalukan itu. Ketika mengajakmu pergi lalu rusak di jalan atau mogok karena aku lupa mengisi bensin.

Halo Kau dan Mimpi,
Aku bisa mengingatmu dengan jelas, tanpa alasan apapun. Sejujurnya kamu boleh tidak mengingatku tapi kau harus terus bermimpi dan berkeinginan. Percayalah semesta akan membantu yang terbaik datang menghampirimu.