Showing posts with label resensi. Show all posts

Forget Jakarta

I’m waiting in line to get to where you are
Hope floats up high along the way
I forget Jakarta
All the friendly faces in disguise
This time, I’m closing down this fairytale

And I put all my heart to get to where you are
Maybe it’s time to move away
I forget Jakarta
And all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends

But if you stay, I will stay
Even though the town’s not what it used to be
And pieces of your life you try to recognize
All went down

I travel the world to get to where you are
Strangers i met along the way
You forget Jakarta
Leaving all the lunacy behind
This time give me back my sanity

Yeah I’m still on my way to get to where you are
Try to let go the things I knew
We’ll forget Jakarta
Promise that we’ll never look behind
Tonight, we’re gone to where this journey ends

And all the pictures that you try to loose
Will follow you behind like ghosts do
And all the lies you try to keep
Have fall behind to catch you even more

-Adithya Sofyan- 

download materi diksar 1 LPM AGRICA

Sila download materi diksar di link ini,

1. Apa itu KEJ oleh wikipedia
2. Pasal - pasal KEJ 
3. Objektifias dan 9 Elemen Jurnalisme oleh Budi Setyono (Busyet), Sekretaris Yayasan Pantau, pernah aktif di LPM Hayam Wuruk



Buku referensi




Selamat Belajar !




Gaze,

: Januari 30th, 2014

stay a while,
I’m gazing the way you move, from far
Never look back since then
I wont have to wander the woods again

Seberapa lama dan seberapa jauh lagi ?
dalam keheningan yang benar – benar hening.
Dalam renungan yang dari kemarin dan kemarin.
Aku tidak lagi berfilsafat.
Tidak mau seperti penceramah di hadapan jemaat.
Dalam  keruntuhan hari
semakin lama 
semakin menguap dan meluap.

I’m watching the story goes so far
Only a little while
It seems fits right in to my head but then
Lights go down curtain falls
That’s how this story ends
As the day passes by
I knew that this gaze was long overdue

Seberapa lama dan seberapa jauh lagi?
aku bisa melihatmu lebih dekat.
Dari dekat.
Tanpa sekat.

Stay a while, still gazing the way you move, from far
I’m taking it harder now I know,
Shows coming to an end

Seberapa lama dan seberapa jauh lagi?
Jika suatu saat nanti
Dalam relung hampir punah
Dalam jiwa terkoyak lemah
Dalam saksi  diam membisu
Tidak juga pergi menjauh

Stay a while, I’m taking my final gaze you see
Gonna look back this time
I will wander the woods again my dear

Seberapa lama dan seberapa jauh lagi?
Menahannya sampai tumpah.
Membanjiri  kubangan yang sudah penuh.

Night will fall You see the city glows again
You see the morning comes to soon
that’s how the circle goes around
Here and there Always a story from somewhere
Always another line to say
No I won’t stay along this line
of falling pieces lying somewhere

apa kabarmu?
seberapa lama dan seberapa jauh lagi?
kamu masih sama dan disana?
Bolehkah aku bawa kamu balik arah.
Sebelum aku kelelahan.
....

****

: Oktober 28th, 2013


Tinggal untuk sementara waktu,
kesan telah lalu,
membuat mati menunggu,

stay a while,
I’m gazing the way you move, from far
Never look back since then
I wont have to wander the woods again

Bisa saja mujur,
Kembali ke jalur,
Ah, aku sedang melantur,

I’m watching the story goes so far
Only a little while
It seems fits right in to my head but then
Lights go down curtain falls
That’s how this story ends
As the day passes by
I knew that this gaze was long overdue

Lupakan cerita,
Sampai semua mereda,
Dan aku pun menunggu lupa,

Stay a while, still gazing the way you move, from far
I’m taking it harder now I know,
Shows coming to an end

menunggu mati,
sampai suatu hari,

Stay a while, I’m taking my final gaze you see
Gonna look back this time
I will wander the woods again my dear

perlahan menjauh,
sedikit demi sedikit akan penuh,
dengan segala keluh,
tertutupi  keruh, 

Night will fall You see the city glows again
You see the morning comes to soon
that’s how the circle goes around
Here and there Always a story from somewhere
Always another line to say
No I won’t stay along this line
of falling pieces lying somewhere

semua akan berakhir,
dan aku berhenti,
sampai  langkah terakhir,
aku perlahan mati,
dan mati.
... 
...



Before Sunset dan Sunrise : Tanggapan untuk Dian,

Dian, film ini sadis.
Aku tidak melewatkan obrolan antar kedua orang yang sedang menikmati pertemuan mereka. Film yang dibuat 1995, 9 tahun setelahnya dibuat sekuelnya di 2004 ini, masih relevan untuk ditonton. aku sangka ini semacam film romantis korea, yang mengaduk perasaan dan  membunuh logika berpikir. 

Aku mulai mengikuti pertemuan yang tidak sengaja di kereta antara Jesse dan Celine. Mereka asik mengobrol dari hal yang paling sederhana sampai rumit. Mulai dari darimana mereka berasal, sampai mau kemana ia pergi. Keduanya asik membahas yang mereka suka. Dari asal yang berbeda, tapi seolah sudah lama bertemu. 

Dian, kamu benar.
Seperti berada dalam kereta yang sedang melaju, saat kita ngobrol dengan orang yang cocok, mau berapa pun jauhnya kereta melaju kita tidak akan bosan. Entah apa pun yang diperbincangkan, kita selalu menikmati setiap kata yang keluar. Kita menangkap kata demi kata seperti hipnotis tanpa ampun. Tak terpejam, apalagi diselingi tawa kecil. Kita tidak merasa menjadi manusia aneh karena ada banyak kesamaan dari tiap cerita.

Dian, tahukah kamu?
kalau film ini kisah nyata dari sang sutradara, Richard Linklater mengalami “Magical Moment”. Ia bertemu dengan Amy sehari, dan menghabiskan waktu bersama sembari mengobrol dan jalan-jalan mengelilingi Philadelphia. Kemudian bertahun- tahun mereka tidak pernah bertemu lagi. Naasnya, Setelah sutradara membuat Film Before Sunrise, ia mendapatkan kabar kalau Amy telah meninggal karena kecelakaan. Di tahun 2013, Before Midnight sengaja dirilis untuk mengenang Amy. Pantas ceritanya begitu legit.


Mungkin tiap orang sama saja. Dengan segala pikiranku. Menyukai hal – hal yang tidak banyak orang suka. Seperti robot curiosty, yang dikirim ke Mars, mencari tanda- tanda kehidupan di sana. Aku suka mengobrol dengan banyak orang demi mencari teman berpikir. Suka mencoba menerjemahkan pikiran orang, berusaha mencari apa yang mereka suka dan aku suka juga. Tidak banyak yang bisa aku imbangi. Entah aku yang terlalu “jongkok” berpikir, atau aku yang terlalu tinggi.

Dian, aku setuju dengan permintaan Jesse kepada Celine.
Ia memintanya untuk menemani satu hari saja  di Viena, Austria, daripada ia harus mati kesepian dengan kopi hitam dan buku-bukunya demi menunggu pesawatnya. Jesse sungguh beruntung, ia bisa mengobrol dengan celine berjam-jam. Jalan – jalan yang tidak tentu arah, karena memang arah yang jelas kadang malah membuat takut dan membingungkan. Lebih baik tidak tahu arah jalan, tapi ada yang menemani.

Dian, aku suka film karena pesannya.
Aku suka film genre drama (tidak harus romantis) tapi membuat berpikir tentang pesan yang terkandung. Sartre, seorang pemikir eksistensialis, yakin setiap orang adalah egois, yang berdiri sendiri. Kehadiran setiap orang tidak boleh meniadakan sisi lain dari orang itu. Suatu saat, setiap orang akan bertemu dengan ‘bagian dari dirinya’. Artinya, dia akan bertemu dengan dirinya di dalam diri orang lain. Aku mengikuti tiap menit dari film ini, apakah pesan itu yang dimaksud?

Dian, Before Sunset (2004) lebih romantis.
Di sekuel ini, karakter Jesse dan Coline lebih dewasa, tidak kekanak-kanakan waktu pertama kali bertemu. Di sekuel pertama kebanyakan sentuhan fisik. Romantis telah direduksi oleh film-film memuakkan. Selalu menonjolkan rayuan dan cumbuan. Otak penonton diracuni oleh birahi.

Disini jesse dan coline sangat romantis. Mereka mengobrol dengan minum kopi, berjalan – jalan di Paris, menikmati senja di dek kapal. Romantisme dibangun dari tawa kecil dan obrolan yang nyambung.

Romantisme itu seperti sepasang kakek dan nenek renta yang berjualan angkringan untuk menghidupi mereka, menunggu pelanggan sembari bersenda gurau dan  mengobrol  sampai pagi.  Apalah yang bisa dilakukan kelak tubuh melemah, selain  mengobrol sampai mati.

Dian, aku tidak suka film dengan konflik darah dan senjata.
Obrolan antara Jesse dan Coline tidak banyak konflik, satu-satunya konflik adalah penyesalan. Kenangan satu hari di Viena masih diingat sampai 9 tahun kemudian saat mereka bertemu di Paris. Benar kata Celine, “Kenangan adalah sesuatu yang indah jika kamu tidak harus berurusan dengan masa lalu,”. Mereka menyesal tidak lagi bisa bersama. Karena punya pilihannya masing-masing. Tapi masih bisa mengobrol. Aku tidak terlalu suka dengan film yang sad ending.  Film ini dibuat menggantung. Diakhir cerita, mereka tidak pernah bersama. Hanya ngobrol ngalor ngidul. Menyedihkan.

Dian, suatu hari  tiap orang mungkin akan mengalaminya.
Aku kutip tulisanmu, ”waktu kita ngobrol aku merasa seperti membaca buku di kereta. Bikin aku betah. Ini lebih menyenangkan ketimbang mendengarkan adu mulut acara berita di televisi”



***

Perempuan Pencipta Narasi*

Tulisan ini dibuat setelah mendengar diskusi salihara terkait perempuan dan perjuangannya. Perempuan sebagai perempuan. Perempuan bukan sebagai pria. Kalau pria bisa indentik dengan  berani dan kokoh. Bagaimana dengan perempuan ? Diskusi ini membahas perempuan yang sadar dengan jati dirinya sebagai perempuan. Dan saya setuju. 

Saya selalu terkesima dengan perempuan yang ndablek.  Perempuan yang berani menerobos batas melawan arus  karena tidak mau dikerdilkan dengan konstruksi budaya dan agama. Tidak mau menyerah dengan tafsir agama apalagi budaya.  Saya setuju. 

Diskusi ini tentang perempuan melawan dengan tulisan.  Sastra berkelamin perempuan bicara tentang perjuangan feminisme. Saya pikir, perempuan harus begitu. Apalagi jika perempuan tidak  melawan dengan bertopeng maskulinitas. Statemant yang paling saya ingat, “jika saya memakai stocking, apakah saya bukan nasionalis dan tidak boleh berjuang untuk itu,”.  Jika perempuan suka membaca roman, memang kenapa? Apakah perjuangan indentik dengan selera bacaan?

"Perempuan dan pria sama, tidak ada bedanya, selain struktur biologisnya," begitu kata seorang perempuan suatu malam. Jika  kamu yang membaca tulisan ini adalah seorang perempuan. Jika kamu adalah perempuan, dan berjuang untuk apapun, termasuk untuk kesetaraan dengan pria.  Jika kamu adalah perempuan, ingin melawan penindasan oleh pria. Jika kamu adalah perempuan dan ingin menunjukan bahwa kamu tidak bisa diremehkan oleh pria. Saya seorang pria. Pria yang mengagumi perempuan seperti kamu. 

* disini linknya --> perempuan pencipta narasi 


Resensi




SAYA menyediakan tempat untuk sesuatu yang saya baca, lihat, dan dengar.  Ruang resensi akan menjadi kacatama subjektivitas atas apa yang telah saya baca, lihat dan dengar.  Bisa buku yang telah saya baca. Bisa saja film yang telah saya tonton. Atau musik yang telah saya dengar. 

TINTA buram akan lebih berarti, daripada ingatan yang paling kuat sekalipun. Atas dasar inilah, saya menyediakan rubrik “resensi” di blog ini. Setelah “argumentasi, realitas, dan motivasi”. Sengaja dan bukan tanpa arti. Karena saya mencoba konsisten dengan alasan keberadaan blog ini. Yaitu, tempat sampah atas pemikiran saya yang berserakan. 

JIKA argumentasi sebuah opini. Realitas adalah rekaman atas sekitar. Motivasi adalah semangat untuk bangkit. Maka, resensi adalah pelengkap.